Penerapan Teknologi HR di masa depan

Desember 29, 2020

Teknologi HR menjadi investasi primadona oleh perusahaan hingga 2022, Teknologi SDM yang menjanjikan untuk mengubah pengalaman di tempat kerja. Alat ini juga dapat membantu menarik bakat atau talent, mempermudah pembagian tugas kerja, dan memastikan semua orang mendapatkan pelatihan dan dukungan yang dibutuhkan untuk berkembang. Namun, semua itu tidak akan terjadi jika karyawan tidak mau menggunakan alat ini. Survei terbaru PricewaterhouseCoopers (PwC) terhadap 600 profesional HR dan HR IT menemukan adopsi yang kurang baik adalah tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam menghasilkan manfaat strategis dari penerapan solusi ini.

“Inovasi disruptive menciptakan industri serta model bisnis baru, dan menghancurkan yang lama. Teknologi baru, analitik data, dan jejaring sosial sangat berdampak besar pada cara orang berkomunikasi, berkolaborasi, dan bekerja. Saat tiap generasi bertabrakan, tenaga kerja menjadi lebih beragam dan orang bekerja lebih lama; model sebuah karier tradisional mungkin akan segera menjadi bagian dari masa lalu. Banyak peran dan jabatan di masa depan HR yang akan muncul dan bahkan belum kami pikirkan. ” ungkap Michael Rendell, Kepala Konsultasi Sumber Daya Manusia, PwC.

Poin penting dari hasil survey

Survey yang berjudul “PwC’s HR Technology Survey 2020” mengeksplorasi keefektifan investasi teknologi dari sudut pandang para pemimpin SDM dan teknologi informasi (TI) SDM. Survey yang melibatkan 10.000 responden dari China, India, Jerman, Inggris, dan AS mengambil bagian dalam survei pekerjaan masa depan HR. 66% dari mereka melihat masa depan HR adalah sebagai pekerjaan dengan “dunia yang penuh kemungkinan”.

Perangkat lunak atau software teknologi HR generasi berikutnya dapat mengubah, bagaimana cara perusahaan akan terhubung, serta mengelola bakat para tenaga kerja. Faktor ini juga dapat mempengaruhi keberagaman dan inklusi yang akan terjadi dan mengintegrasikannya ke dalam proses perekrutan.

Jika perusahaan berharap untuk mendapatkan manfaat ini, organisasi perlu berencana untuk meningkatkan investasi mereka dalam teknologi SDM hingga 2022, menurut survei global yang dilakukan PwC kepada pemimpin teknologi informasi (IT) SDM dan SDM. Manfaat lain adalah penerapan teknologi dapat menarik bakat baru, mengembangkan potensi puncak dari tiap karyawan, dan meningkatkan pengalaman kerja melalui otomatisasi. Semua ini dapat menjadi tujuan utama perusahaan dan karyawan yang menerapkan teknologi baru, menurut PwC.

Satu dekade yang lalu, teknologi HR cukup tertinggal dalam beradaptasi dengan teknologi baru, tetapi hari ini, solusi cloud HR di luar sana contohnya memiliki pangsa pasar sebesar $ 148 juta. Sekitar 74% perusahaan yang disurvei oleh PwC berencana untuk meningkatkan pengeluaran mereka di bidang teknologi SDM tahun ini untuk memenuhi kebutuhan talent mereka. Pemberi kerja atau recruiter diharapkan melakukan investasi dalam akuisisi bakat sebesar 49%, pengalaman pengguna yang lebih baik untuk karyawan sebesar 48%, dan pemetaan keterampilan dan alat jalur karir 46%.

Dan Staley selaku Leader HR Technology and Transformation, PwC US menuturkan Teknologi di ruang SDM digunakan oleh setiap karyawan, yang membuatnya sedikit berbeda dari domain lainnya. Dalam hal pengalaman karyawan serta pengembangan bakat itu benar-benar bermuara pada memberi dan mendapatkan feedback. Keragaman dan inklusi adalah satu area dimana peningkatan dalam teknologi HR dapat menguntungkan aspek perekrutan dan retensi karyawan. Teknologi diperlukan untuk membantu memastikan organisasi tidak bias selama melakukan proses perekrutan.

Alat perekrutan yang ada saat ini dirancang untuk menghilangkan bias dalam wawancara “Perusahaan dapat melibatkan AI dalam wawancara berbasis video, yang memperhitungkan bagaimana kandidat atau para tenaga kerja menjawab pertanyaan dan memberikan skor yang sesuai, dalam upaya untuk menghilangkan bias.” kata Staley.

Selain itu, manfaat internal memiliki platform adalah karyawan dapat memperbarui keterampilan, tujuan mereka, serta menjaganya tetap up to date. Benefit ini akan memberi manajer gagasan yang lebih baik tentang kemana arah yang tepat ketika harus melakukan promosi dari dalam organisasi, atau membuat perubahan struktural.

Meminta para karyawan untuk menggunakan alat atau dengan menerapkan teknologi baru ini bisa menjadi sebuah tantangan: sekitar 82% dari responden yang disurvei PwC mengatakan bahwa mereka berjuang dalam tantangan mengenai adopsi, dan kurangnya persiapan yang cukup. Manfaat pengguna yang kurang jelas, dan pengalaman penggunanya adalah beberapa alasan para responden survei mempercayai bahwa teknologi ini perlu dirangkul kembali.

Meskipun metode pelatihan tradisional tidaklah cukup untuk meningkatkan tingkat adopsi, insentif dan gamifikasi dapat menjadi opsi dan alat yang efektif, menurut PwC. Kedua teknik ini dinilai sebagai metode yang paling efektif untuk memerangi tingkat adopsi yang rendah. “Pahami masalah bisnis yang akan coba diselesaikan dengan menerapkan teknologi SDM. Bicarakan dengan para manajer lini serta karyawan untuk memastikan perusahaan dapat memecahkan masalah nyata dengan menerapkan teknologi tersebut, itu akan turut serta membantu tingkat adopsi para karyawan” kata Staley.

3 Manfaat penting penerapan teknologi HR

Dapat menjawab pertanyaan yang tepat. Mulailah dengan mengundang semua orang yang tepat untuk memastikan perusahaan dapat menjawab pertanyaan yang tepat sebelum memilih solusi yang akan diterapkan. Seperti halnya investasi masa depan HR dengan teknologi baru apa pun, kesuksesan dengan teknologi HR atau tenaga kerja ditentukan oleh dua hal: Pertama, apakah solusi tersebut dapat menyelesaikan masalah bisnis yang sebenarnya. Kedua, apakah pengguna bersedia menjadikannya sebagai bagian dari cara mereka menyelesaikan pekerjaan.

Memperhitungkan skala adopsi dengan sentuhan manusia. Gamifikasi dan insentif, merupakan kedua poin bersama dengan pelatihan dan komitmen para pemangku kepentingan. Poin-poin ini dapat sangat membantu meyakinkan para karyawan untuk ikut serta. Perusahaan tidak perlu mengubah budaya kerjanya, sebagai gantinya gunakan budaya kerja tersebut untuk memperkuat rencana manajemen perubahan dan bisa terapkan teknologi sdm untuk membantu dalam mencapainya.

Tempatkan selalu karyawan pada inti dari pengambilan keputusan. Hal ini berarti melibatkan pengguna akhir saat memperluas atau contohnya ketika memutuskan beralih vendor. Membiarkan karyawan melihat apa yang mendorong kebutuhan mereka akan perubahan, dapat sangat membantu dalam mencegah kesalahan akibat perubahan, dan adaptasi dalam penerapan teknologi baru.

“Sebagian besar profesional HR dalam survei kami tidak percaya bahwa mereka siap untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang menuntut lebih banyak kebebasan dengan menerapkan teknologi HR, otonomi, dan fleksibilitas. Hanya sekitar 20% yang melaporkan bahwa mereka siap untuk mengambil peran teknologi dan otomatisasi dalam menggantikan pekerja sesuai pengetahuan, meskipun sebagian besar menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang harus mereka pertimbangkan dan lakukan. ” pungkas Christian Murray Global Leader HR Transformation and Technology Consulting, PwC United Kingdom.
Dilansir dari : PwC’s HR Technology Survey 2020

Author Profile

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments