Hindari Toxic Productivity yang Marak Dialami Para Pekerja

September 1, 2022

Para pekerja pasti ingin menjadi produktif dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini baik karena produktif berarti menggunakan waktu yang dimiliki secara maksimal untuk menyelesaikan berbagai tugas dan pekerjaan. Tentunya agar pekerjaan mereka tidak menumpuk.

Tetapi perlu diingat bahwa segala sesuatu yang berlebihan justru tidak baik, begitupun juga dengan produktivitas. Ketika Anda berusaha untuk terus-menerus menjadi produktif dan melakukan banyak pekerjaan tanpa adanya istirahat, hal ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Produktivitas yang berlebihan seperti itu disebut dengan toxic productivity. Toxic productivity berdampak buruk tidak hanya bagi kesehatan fisik, tetapi juga mental. 

Hindari Toxic Productivity yang Marak Dialami Para Pekerja

Mari pahami toxic productivity dengan lebih baik di artikel ini. 

Definisi Toxic Productivity

Toxic productivity merupakan istilah lain dari ‘workaholic’ atau kecanduan kerja. Toxic productivity adalah keinginan tidak sehat yang dimiliki oleh seseorang untuk berusaha dengan segala cara dan setiap saat untuk menjadi produktif. 

Toxic productivity terjadi ketika produktivitas mulai memburuk atau ketika Anda melampaui ekspektasi realistis dan hanya berpaku pada proses konstan. Anda merasa butuh untuk bekerja lebih keras baik dimanapun dan kapanpun. 

Segala sesuatu dilaksanakan serba dari rumah seperti Work From Home. Batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin menipis. Sehingga para pekerja merasa bahwa harus bekerja lebih untuk membuktikan usahanya. Tidak berhenti sampai di situ, ketika pekerjaan telah selesai akan muncul rasa bersalah di dalam diri para pengidap toxic productivity.

Mereka merasa tidak mengerjakannya dengan cukup baik atau  bahkan menurut mereka seharusnya bisa mengerjakan lebih banyak lagi. Tepatnya, tidak pernah ada kata cukup untuk mereka.

Toxic productivity adalah pola pikir yang bermanifestasi sebagai kebutuhan untuk terus-menerus bekerja. Pola pikir ini sulit dikenali karena bekerja terlalu banyak sering kali dianggap hal yang positif. Ketika sedang waktu istirahat, Anda merasa tidak dapat beristirahat dengan tenang. Bahkan Anda selalu terjebak dalam pikiran tentang pekerjaan dan terlalu sibuk mengkhawatirkan apalagi yang harus dikerjakan. 

Penelitian Mengenai Toxic Productivity

Kathyrn Esquer merupakan seorang psikolog sekaligus pendiri jaringan teleterapis yang mengungkapkan bahwa selama masa pandemi semakin banyak pekerja yang jatuh ke dalam pola toxic productivity.

Penyebab dari hal ini karena pembatasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin menipis. Selain itu itu mereka juga memiliki waktu luang yang sangat banyak yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki. 

Menurut mereka, dibanding bermalas-malasan, mereka ingin bekerja lebih keras lagi supaya merasa berguna, layak, dan memiliki kendali. Menurut Esquer juga, konsep pikiran buruk ini bisa menyebabkan munculnya burnout yang mana dapat membuat Anda menjadi kurang produktif. 

Seorang pelatih bisnis dan penulis Joy of Business, Simone Milasas berkata bahwa pemikiran toxic productivity menimbulkan rasa gagal dan salah di dalam diri seseorang ketika ia tidak bisa produktif. Milasas juga berpendapat dengan produktivitas berlebih juga bisa mempengaruhi hubungan atau interaksi seseorang dengan lingkungannya.

Menurut Dr. dr. Ria Maria Theresa Sp.KJ., toxic productivity berbeda dengan hustle culture. Hustle Culture merupakan tekanan untuk bekerja lebih banyak yang dipicu oleh faktor eksternal. Sedangkan toxic productivity didorong oleh faktor internal.

Oleh sebab itu, ketika Anda merasa mulai menunjukkan gejala toxic productivity, segera melakukan cara-cara untuk kembali mengendalikan diri atau beristirahat yang cukup. Namun, apa saja tanda toxic productivity?

Baca juga: Standar Penilaian Kinerja Karyawan yang Efektif

Ciri-ciri Toxic Productivity

Anda harus dapat membuat batasan dalam memaksimalkan waktu antara untuk tujuan yang sehat atau hanya obsesi berbahaya. Berikut beberapa tanda yang mengindikasikan Anda mengalami toxic productivity:

1. Kerap menetapkan goals yang tidak realistis

Terkadang kita tidak menyadari bahwa kita terlalu berharap. Menyelesaikan laporan, membersihkan mobil, menyiapkan lima hidangan, lari maraton, memecahkan masalah. Semua tugas tersebut ingin Anda lakukan dalam sehari.

Apakah mungkin? Tentu tidak. Jika Anda menetapkan tujuan seperti itu, maka Anda sangat tidak realistis. Ekspektasi tersebut terlalu dipaksakan atau bahkan bisa dibilang terlalu ambisius. 

Buat tujuan yang realistis. Jangan terlalu memaksakan diri dan sesuaikan dengan kemampuan Anda. Hal ini juga dapat membuat Anda merasa produktif.

2. Rasa bersalah terkait pekerjaan sering membebani

Hal yang paling sering terjadi yaitu kegagalan dalam mencapai garis finish. Anda akan dibebani oleh perasaan bersalah ketika tidak mencapai target yang telah ditentukan. Selain itu, sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, Anda akan merasa bersalah karena gagal menaklukannya.

Gagal dalam hidup merupakan hal yang bisa saja terjadi. Tanamkan hal tersebut di dalam mindset Anda. Jangan membenci diri Anda akan hal itu karena kesalahan bisa saja terjadi dalam kehidupan. Justru hal tersebut bisa Anda jadikan sebagai motivasi untuk bekerja dan berusaha lebih baik lagi kedepannya.

3. Mengalami kecemasan saat downtime

Seseorang yang mengidap toxic productivity cenderung mudah cemas dan tidak mungkin melakukan hal-hal santai seperti duduk di sofa, berbaring di tempat tidur, membaca buku, jalan-jalan santai, dan lain-lain. Hal ini karena sebagian besar waktu untuk bersantai sering dihabiskan untuk menghadapi kegelisahan. 

4. Kesuksesan terasa tidak berarti

Ketika berhasil mencapai sesuatu, Anda tidak merasa puas. Anda justru dihantui dengan keinginan berbuat atau bekerja lebih banyak. Anda langsung beralih ke hal berikutnya dan bahkan membuat daftar yang tidak ada akhirnya.

5. Merasa lelah dan kehabisan energi

Semua pekerjaan yang Anda selesaikan terasa melelahkan bahkan kehabisan energi. Kondisi ini tidak hanya terjadi secara fisik tetapi juga secara mental. Anda merasa stress, pegal-pegal, bahkan sakit. Produktivitas yang sesungguhnya tidak akan membuat hal tersebut terjadi pada Anda, justru yang muncul adalah rasa senang dan kepuasan di dalam diri. 

Baca juga: Merasa Overwhelmed saat bekerja? Lakukan Trik ini!

Tips Menangani Toxic Productivity

Tips Menangani Toxic Productivity

Ketika Anda merasa gejala di atas sedang terjadi di dalam diri Anda, segera lakukan beberapa tips berikut untuk menanganinya:

1. Sadari dan kenali tanda-tanda serta sumber masalahnya

Anda perlu menyadari apa masalah yang perlu diperbaiki. Cek apakah Anda memunculkan tanda-tanda seperti yang telah disebutkan sebelumnya. 

2. Istirahatkan diri Anda sejenak

Orang yang mengidap toxic productivity sering kali menanyakan kepada diri sendiri “Apalagi yang bisa saya kerjakan?”, bahkan di akhir pekan.

Alih-alih mencari hal yang perlu dikerjakan, berikan sedikit waktu untuk diri sendiri beristirahat, bersantai, atau quality time bersama teman atau keluarga setelah menyelesaikan suatu proyek.

Anda juga bisa mencari kegiatan ringan untuk dilakukan yang tidak menimbulkan beban pikiran.

3. Prioritaskan self-care dalam to-do list

Ingat untuk selalu merawat diri Anda baik secara fisik atau mental. Sesekali melakukan aktivitas yang memberikan quality time, mengecek kesehatan fisik dan mental seperti ke psikolog, melaksanakan hobi, lari pagi, minum teh, duduk santai di sofa, baca koran, baca novel, dan sebagainya. Jadikan self-care menjadi sebuah prioritas sebagaimana saat Anda mengerjakan suatu proyek.

4. Membuat professional detachment

Professional detachment merupakan pemisahan yang dapat Anda terapkan untuk tetap berkomitmen kepada pekerjaan dan melakukannya dengan sebaik mungkin sambil mengingat di pikiran bahwa identitas Anda tidak hanya tentang jabatan. Bukan hanya seorang karyawan, tetapi Anda juga teman, pacar, orang tua, dan sebagainya. Jadi Anda tidak terikat terhadap pekerjaan tetapi juga bekerja keras. Istilah ini disampaikan oleh Ruettimann di dalam bukunya. 

5. Tetapkan boundaries yang sehat

Boundaries atau batasan yang dimaksud adalah membedakan kapan waktu harus bekerja dan kapan harus beristirahat. Semenjak diberlakukannya Work From Home, orang-orang cenderung bekerja melebihi jam kerja semestinya.

Buatlah batasan yang ketat antara waktu pribadi dan pekerjaan serta pastikan tanggung jawab akan pekerjaan Anda tidak menghabiskan semua waktu pribadi yang dimiliki. Selain itu, Anda juga harus belajar untuk mematuhi batasan itu. Misalnya, ketika sedang jam kerja maka lakukan semua tugas Anda secepat mungkin. Namun, ketika jam bekerja sudah habis, maka istirahat.

6. Praktikkan mindfulness

Praktik mindfulness sudah terkenal mampu membantu kita untuk berhubungan dengan dunia dengan cara yang sehat. Dengan praktik mindfulness , kebutuhan yang dibutuhkan baik oleh tubuh ataupun pikiran dapat Anda sadari dengan mudah. Selain itu, praktik ini juga baik untuk kesehatan mental karena mampu menghilangkan berbagai pikiran negatif dan kecemasan yang mengganggu.

Baca juga: Divergent Thinking: Definisi dan Manfaatnya di Dunia Kerja

Kesimpulan

Setelah memahami apa itu toxic productivity, tentu Anda mengetahui bahwa hal tersebut bisa berakibat buruk bagi diri sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, yuk mulai sekarang terapkan sikap produktif yang baik. Perlu diingat bahwa Anda harus hati-hati dalam membedakan toxic productivity dan produktivitas yang positif. Banyak sekali orang keliru akan kedua hal ini. Produktivitas yang baik berarti Anda menerapkan hidup produktif tanpa mengesampingkan hal-hal yang menyangkut kebutuhan dasar manusia seperti makan, minum, istirahat, interaksi sosial, dan kenyamanan pribadi.

Bersama Appsensi Tingkatkan Sikap Produktif di Lingkungan Perusahaan

Berbagai perusahaan tentu memerlukan sikap produktif di dalam diri karyawan untuk mempertahanakan kinerja yang baik. Dalam mencapai objektif perusahaan, kinerja yang baik sangatlah dibutuhkan. Karena para karyawan diharapkan dapat melakukan tugas sesuai target, visi dan misi perusahaan. Namun, perlu diingat perusahaan perlu menerapkan budaya anti toxic productivity dan bekerja keras sesuai tanggung jawab

Oleh sebab itu, diperlukan proses pemantauan kinerja dan performa perusahaan guna mempermudah pencapaian target. Jangan khawatir. Appsensi kini hadir dengan menyediakan berbagai fitur yang dapat membantu Anda terkait performance management system karyawan Anda. 

Kami juga merupakan aplikasi terbaik penyedia solusi bagi HR di Indonesia. Appsensi menyediakan fitur performance view untuk mempermudah Anda dalam mengevaluasi kinerja dan kemampuan karyawan secara lebih sistematis.

Melalui Apssensi, Anda juga bisa merencanakan langkah strategis selanjutnya untuk menempuh rencana pengembangan karir karyawan. Fitur-fitur lain yang bermanfaat bagi HR juga tersedia seperti fitur payroll, sistem OKR (Objective Key Result) hadir dalam aplikasi Appsensi sebagai alat ukur performa perusahaan.

Kami juga telah bekerjasama dan memberikan solusi terbaik kepada banyak perusahaan di berbagai sektor dan industri.

Tertarik menggunakan Appsensi? Anda dapat mengunjungi website kami disini untuk mengetahui lebih lanjut.

Author Profile

Ricky Caesar Sam

Head of Sales and Marketing Appsensi

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments