Berbisnis secara Etis dengan Memahami Etika Bisnis

Maret 25, 2022

Berperilaku profesional kepada pelanggan dan karyawan adalah salah satu kewajiban dari bisnis. Pedoman berperilaku dalam menjalankan bisnis umumnya disebut sebagai etika bisnis. Apa itu etika bisnis? Apakah etika dalam menjalankan bisnis dapat menentukan kesuksesan atau kegagalan suatu bisnis? Mari ikuti artikel ini lebih lanjut untuk memahami lebih lanjut tentang etika bisnis.

Berbisnis secara Etis dengan Memahami Etika Bisnis

Apa itu Etika?

Sebelum kita masuk ke dalam pembahasan apa itu etika bisnis, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu etika.

Etika sendiri berarti memiliki pemahaman terkait apa yang benar dan salah, mengevaluasi situasi dan membuat keputusan yang cerdas berdasarkan nilai pribadi dan/atau profesional. 

Subjek dari etik terdiri dari isu-isu mendasar termasuk pengambilan keputusan praktis, dan fokus utama yang mencakup sifat nilai tertinggi dan standar yang dapat digunakan untuk menilai benar atau tidaknya tindakan manusia. 

Kelompok etika yang sama dapat diaplikasikan baik pada situasi dan lingkungan pribadi dan profesional. Namun, kita juga dapat memiliki keyakinan yang berbeda untuk kehidupan pribadi dengan kehidupan profesional, seperti sebagai pekerja, manajer, atau pemilik perusahaan. 

Apa itu Etika Bisnis?

Pedoman prinsip moral untuk seorang pelaku bisnis menjalankan bisnisnya adalah pengertian etika bisnis. 

Etika bisnis merupakan studi tentang kebijakan dan praktik bisnis yang sesuai mengenai subjek yang berpotensi kontroversial termasuk tata kelola perusahaan, perdagangan orang dalam, penyuapan, diskriminasi, tanggung jawab sosial perusahaan, dan tanggung jawab fidusia. 

Hukum sering diberlakukan sebagai panduan etika bisnis, tetapi di lain waktu etika bisnis memberikan pedoman dasar yang dapat dipilih bisnis untuk diikuti untuk memperoleh persetujuan publik. 

Tujuan etika bisnis sendiri adalah untuk memastikan bahwa adanya tingkat kepercayaan dasar tertentu antara konsumen dan berbagai bentuk pelaku pasar dengan bisnis. Misalnya, seorang manajer portofolio harus memberikan pertimbangan yang sama terhadap portofolio anggota keluarga dan investor individu kecil untuk memastikan masyarakat menerima perlakuan yang adil. 

Istilah etika bisnis dapat dibedah menjadi tiga komponen dasar, yaitu sejarah, skandal, dan integrasi. 

1. Sejarah

Gagasan etika bisnis muncul bersamaan dengan penciptaan perusahaan pertama, dengan istilah tersebut baru dimulai sejarahnya sejak awal 1970-an. 

Prinsip etika bisnis didasarkan pada akademisi dan tulisan-tulisan akademis tentang operasi bisnis yang tepat. Praktik etika dasar telah ditemukan melalui penelitian dan studi praktis mengenai bagaimana bisnis berfungsi, dan bagaimana mereka beroperasi, baik secara mandiri maupun dengan satu sama lain. 

2. Skandal

Pengertian utama kedua di balik istilah etika bisnis berasal dari hubungannya yang dekat dengan penggunaannya ketika skandal terjadi. Misalnya, sebuah perusahaan di Amerika Serikat yang menggunakan pekerja anak atau kondisi kerja yang buruk adalah salah satu skandal yang cukup heboh dalam dunia bisnis.

3. Integrasi

Aspek yang paling baru dan terus berkembang terkait etika bisnis adalah adanya pembangunan etika bisnis ke dalam inti perusahaan dan menjadikannya sebagai bagian standar dari blueprint operasional mereka. Ketika dunia terus bertumbuh menjadi lebih benar secara politis, fokus terhadap etika bisnis yang tepat dan kepatuhannya terhadap etika bisnis juga semakin meningkat, dan semakin menjadi norma dalam menjalankan bisnis. 

Baca juga: Memahami Strategi Korporasi di Perusahaan

Mengapa etika bisnis penting dalam menjalankan bisnis?

Etika bisnis penting karena memiliki implikasi yang bertahan lama pada beberapa tingkatan. Seorang pelaku bisnis menerapkan etika bisnis untuk mempromosikan integritas di antara pekerja mereka dan mendapatkan kepercayaan dari key stakeholders, seperti investor dan konsumen.  

Reputasi perusahaan dipertaruhkan seiring dengan meningkatnya kesadaran investor terhadap masalah lingkungan, sosial, dan tata kelola. 

Misalnya, ketika perusahaan menjalankan praktik yang tidak etis, seperti prosedur dan perlindungan privasi pelanggan yang buruk, hal itu dapat mengakibatkan pelanggaran data, yang kemudian dapat menyebabkan hilangnya pelanggan, hilangnya kepercayaan, perekrutan yang kurang kompetitif, dan penurunan harga saham. 

Ada tiga alasan mengapa etika bisnis menjadi penting bagi perusahaan, yaitu etika berbisnis sebagai keterampilan penting, etika berbisnis dapat mendorong perilaku pekerja, dan etika berbisnis mendatangkan keuntungan. 

Mengapa etika bisnis penting dalam menjalankan bisnis?

1. Etika bisnis sebagai keterampilan penting

Kemajuan teknologi dan komunikasi digital telah memudahkan proses identifikasi dan publikasi kesalahan langkah etis. Kemajuan teknologi dan komunikasi ini juga mendorong sebagian besar perusahaan untuk memiliki program etika bisnis. 

Perusahaan meningkatkan penggunaan lebih banyak sumber daya untuk etika bisnis untuk dapat menghindari implikasi negatif. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap akuntan, 55% mengatakan mereka yakin bahwa pentingnya etika bisnis akan terus tumbuh dalam tiga tahun ke depan. 

Untuk dapat menciptakan tempat kerja yang etis, perusahaan menetapkan program formal etika bisnis dan mempekerjakan talenta yang tepat. 

2. Etika bisnis mendorong perilaku karyawan

Berdasarkan hasil survei Global Business Ethics 2018, karyawan lebih cenderung menerapkan penalaran etis setelah perusahaan mereka dengan jelas menunjukkan pentingnya etika bisnis dalam bekerja. Perusahaan yang mengadvokasikan etika bisnis dengan baik dapat memotivasi pekerjanya untuk menjalankan peran dan kewajibannya dengan integritas. 

Perusahaan harus membuat program etika terlebih dahulu untuk dapat membangun budaya etis. Menurut U.S. Department of Commerce, sebuah program etika yang lengkap harus mencakup semua fungsi bisnis, termasuk operasi, sumber daya manusia, dan pemasaran. 

Dengan mengintegrasikan program etika dengan operasi bisnis, perusahaan dapat memaksimalkan dampak program dengan menjadikan proses etis sebagai bagian dari alur kerja karyawan. 

3. Etika bisnis mendatangkan keuntungan

Penerapan etika bisnis juga dapat meningkatkan profitabilitas. Penerima penghargaan dalam daftar Perusahaan Paling Etis di Dunia tahun 2021 mengungguli Indeks Kapitalisasi Besar sebesar 10,5% selama tuga tahun. 

Selain meningkatkan profitabilitas, program etika yang dilaksanakan dengan baik juga dapat mengurangi kerugian. Perusahaan yang tidak mempraktekkan etika bisnis dengan sebenarnya dapat mengalami penurunan harga saham dan pemutusan kemitraan bisnis. 

Etika dalam berbisnis juga memupuk kepercayaan antar perusahaan dan masyarakat, yang memperkuat branding dan penjualan. Berdasarkan hasil survei terhadap konsumen, lebih dari separuh konsumen di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka tidak lagi ingin membeli dari perusahaan yang mereka anggap tidak etis. 

Oleh karena itu, loyalitas konsumen sebagai salah satu unsur etika dalam berbisnis sangat penting untuk kelangsungan perusahaan. 

12 Contoh etika bisnis dalam lapangan kerja

Bertindak secara etis berarti dapat menentukan apa yang “benar” dan apa yang “salah”. Misalnya, kondisi kerja yang tidak aman umumnya dianggap tidak etis karena dapat membahayakan pekerja. 

Sementara di seluruh dunia perusahaan dapat melihat dengan jelas adanya praktik bisnis yang tidak etis. Untuk menentukan apakah praktik tersebut etis atau tidak akan menjadi lebih sulit jika praktik tersebut berada di sebuah zona abu-abu (grey area) di mana garis antara etis dan tidak etis tidak dapat ditetapkan dengan jelas. 

Contoh etika bisnis lain yang cukup terlihat jelas praktiknya adalah tingkat loyalitas pekerja terhadap perusahaan. Misalnya, dalam sebuah rapat, seorang karyawan yang memiliki saham di perusahaan diberitahu bahwa perusahaan akan menghadapi kekurangan pendapatan untuk kuartal tersebut. Tidak etis bagi karyawan tersebut untuk menjual sahamnya karena itu berarti dia tunduk pada informasi orang dalam. 

Baca juga: Mengenal Business Model Canvas dalam Perencanaan Bisnis

Beberapa contoh etika pribadi yang paling umum bagi para profesional antara lain:

Keterbukaan

Sifat terbuka atau transparansi merupakan dasar dari hubungan yang kuat dengan pelanggan. Sifat ini melibatkan representasi fakta secara akurat, menyatakan kebenaran secara menyeluruh dan mengkomunikasikan dengan jelas dan terbuka tentang segala sesuatu yang dilakukan dan dikatakan perusahaan.

Semakin banyak kejujuran yang ditunjukkan perusahaan, semakin besar kemungkinan publik untuk dapat mempercayai layanan, produk, atau misi dari perusahaan. 

Integritas (Integrity)

Perusahaan yang memiliki integritas dapat berpegang teguh pada keputusan, terutama ketika mendapat tekanan untuk melakukan hal sebaliknya, menunjukkan kehormatan dan keberanian. Perusahaan dikatakan memiliki kekuatan dan karakter yang terpuji apabila perusahaan tersebut dapat melakukan apa yang mereka yakini benar secara moral berdasarkan kesetaraan dan keadilan. 

Keterpercayaan (Trustworthiness)

Perusahaan menunjukkan komitmen mereka terhadap etika bisnis dengan menumbuhkan rasa percaya kepada pekerja, mitra bisnis, dan konsumen melalui penepatan janji dan memenuhi komitmen. Keterpercayaan merupakan komponen monumental untuk sukses dalam kegiatan bisnis karena umumnya seseorang suka bekerja dengan dan membeli dari orang-orang yang mereka yakini dapat diandalkan dan memiliki prinsip. 

Loyalitas (Loyalty)

Sifat loyal atau setia memungkinkan bisnis untuk membuat keputusan yang menguntungkan hubungan yang dimiliki termasuk dengan staf, mitra, investor dan konsumen, dan mengatasi pengaruh dari kepentingan luar yang saling bertentangan. 

Keadilan (Fairness)

Bertindak secara adil dan berkomitmen untuk menjalankan kekuasaan mereka secara adil adalah kewajiban dari perusahaan. Misalnya, untuk dapat memperoleh keuntungan dari kompetisi, pengusaha hanya boleh menggunakan metode terhormat tanpa menyinggung perasaan pihak lawan. 

Keadilan juga berkaitan dengan kesetaraan yang berarti memiliki pikiran terbuka dan memberlakukan semua orang dengan adil. Sikap ini dapat dilibatkan dalam praktik perekrutan, inisiatif pemasaran, kemitraan bisnis, dan persaingan dalam pasar untuk konsumen atau klien baru. 

Belas Kasih (Compassion)

Sebuah perusahaan yang menerapkan etika bisnis harus dapat menunjukkan kebaikan, pengertian, dan kepedulian yang tulus terhadap penghidupan orang lain. Hal ini berarti pencapaian tujuan bisnis adalah untuk menghasilkan hasil yang terbaik sambil menyebabkan kerusakan paling sedikit. 

Rasa Hormat (Respect)

Salah satu penerapan etika bisnis yang penting adalah memiliki rasa hormat yang mendasar, baik terhadap hak, privasi, dan juga martabat orang lain yang berada di dalam dan di luar perusahaan. Perusahaan yang dapat memperlakukan semua manusia dengan hormat tanpa memandang agama, jenis kelamin, ras, kebangsaan, atau penanda lainnya sering diulas secara positif di mata publik.

Perusahaan memegang standar etika dalam menjaga  menjaga informasi seperti rincian rekening bank, latar belakang kesehatan atau nomor jaminan sosial pribadi. Hal itu menunjukkan perusahaan memiliki rasa hormat terhadap privasi klien atau pelanggan.

Menghormati Hukum (Lawfulness)

Etika bisnis juga mencakup mematuhi peraturan dan kewajiban hukum terkait aktivitas bisnis seperti pajak, keselamatan pekerja, dan undang-undang ketenagakerjaan dan ketenagakerjaan. Perusahaan yang bekerja dalam batas-batas sistem hukum akan terlihat lebih kredibel dan terhormat, yang dapat membangun reputasi positif yang kuat sebagai pemberi kerja yang mendorong kandidat berkualitas tinggi untuk melamar.

12 Contoh etika bisnis dalam lapangan kerja

Memberikan Keunggulan (Providing Excellence)

Usaha untuk memberikan keunggulan dengan selalu bekerja untuk memberikan kualitas layanan atau produk terbaik kepada klien dan konsumen adalah prinsip etika bisnis. Perusahaan senantiasa mengejar kreativitas dan inovasi, mencari cara terbaik untuk pengiriman barang atau layanan dan berusaha untuk terus meningkatkan kinerja, kepuasan pelanggan dan moral karyawan. 

Tanggung Jawab (Responsibility)

Perusahaan yang bertanggung jawab kepada pekerja dan pelanggannya, dan mampu memahami bagaimana perilaku kepemimpinan mereka dapat mempengaruhi bisnis memiliki standar etika yang tinggi. 

Seorang pengusaha yang memimpin perusahaan harus menerapkan standar etika dan memberi contoh kepada orang lain dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memimpin dengan nilai-nilai dan misi perusahaan. Dari rasa tanggung jawab tersebut, pemimpin perusahaan harus dapat membuat keputusan logis yang menguntungkan semua orang. 

Menjunjung Tinggi Reputasi (Upholding Reputation)

Menjunjung tinggi reputasi yang baik berarti terlibat dalam perilaku yang mengangkat perusahaan.

Perusahaan yang beretika berusaha mempertahankan dan melindungi reputasi positif untuk membangun budaya kerja yang memotivasi, membuat investor tetap terlibat, dan memberikan layanan yang luar biasa kepada pelanggan. Jika ada tindakan yang yang dapat merusak reputasi perusahaan, para pemimpin perlu menangani situasi dengan tepat menggunakan standar etika lain seperti transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab.

Akuntabilitas (Accountability)

Bisnis yang dapat bertanggung jawab atas semua keputusan yang dibuat dan mengakui kesalahan mereka kepada semua orang yang mungkin terpengaruh oleh kesalahan langkah termasuk pemegang saham, pekerja, dan masyarakat, serta dapat menerima segala konsekuensi dan menjalankannya secara transparan merupakan ciri-ciri bisnis yang beretika. 

Baca juga: Menangani Masalah dengan Risk Management

Mencegah pelanggaran etika bisnis dalam perusahaan bersama Appsensi

Dalam mencegah pelanggaran etika bisnis dan memperbaiki efek samping negatif dari perilaku tidak etis tersebut, perusahaan sering meminta manajer dan pekerja untuk melaporkan kejadian apa pun yang mereka amati atau alami. Namun pada kenyataannya, hal tersebut tidak mudah dilakukan karena adanya hambatan dalam budaya perusahaan, seperti rasa takut akan pembalasan karena telah melaporkan pelanggaran. 

Aplikasi Appsensi menyediakan fitur untuk monitor data kehadiran dan kinerja karyawan secara real-time dengan akses yang aman dan efisien. Selain itu, aplikasi Appsensi juga menyediakan fitur untuk memberikan tugas dan penilaian kepada karyawan secara online melalui fitur Performance Review, yang dapat digunakan untuk mengatasi rasa takut melaporkan pelanggaran. Penasaran dengan apa saja fitur-fitur yang ada di Appsensi? Klik link ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Appsensi. 

Author Profile

Ricky Caesar Sam

Head of Sales and Marketing Appsensi

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments