Kenali Biaya Operasional Perusahaan dan Jenis-jenisnya!

September 8, 2022

Perusahaan membutuhkan sejumlah biaya yang perlu dikeluarkan agar proses produksi, distribusi, penjualan, atau bisnis dapat beroperasi dalam jangka panjang. Biaya-biaya ini disebut dengan biaya operasional. Perusahaan tidak dapat menghasilkan produk atau layanan atau bahkan bertahan hidup tanpa mengeluarkan biaya ini. 

Biaya operasional perusahaan sering disebut dengan biaya pengorbanan dan dinyatakan dalam bentuk satuan uang. Biaya operasional juga terdiri dari berbagai jenis.

Simak pembahasan berikut mengenai pengertian hingga jenis-jenis biaya operasional!

Kenali Biaya Operasional Perusahaan dan Jenis-jenisnya!

Pengertian Biaya Operasional

Biaya operasional merupakan biaya yang terkait dengan pemeliharaan dan administrasi bisnis yang dilakukan oleh perusahaan sehari-hari. Biaya operasional termasuk Cost Of Good Sold (COGS) dan biaya operasional lainnya seperti biaya penjualan, biaya administrasi. Biaya-biaya tersebut meliputi biaya sewa, gaji pegawai, overhead cost, serta biaya bahan baku dan pemeliharaan. 

Dalam proses bisnis, pelacakan biaya operasi serta biaya terkait dengan kegiatan yang bersifat non-operasional perlu dilakukan. Biaya kegiatan non-operasional seperti biaya bunga pinjaman, investasi, dan translasi mata uang asing.

Kedua biaya tersebut baik operasional dan non-operasional perlu dicatat berbeda di dalam pembukuan perusahaan. Hal ini memungkinkan para analisis untuk menentukan bagaimana biaya dikaitkan dengan aktivitas yang menghasilkan pendapatan dan apakah bisnis dapat dijalankan dengan lebih efisien lagi.

Secara umum, manajemen perusahaan selalu berusaha untuk memaksimalkan keuntungan bagi perusahaan. Karena laba dapat ditentukan baik dari pendapatan yang diperoleh perusahaan maupun jumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam beroperasi. Sehingga laba dapat ditingkatkan baik dengan meningkatkan pendapatan maupun dengan menurunkan biaya operasional. Manajer sering menggunakan metode pemotongan biaya umum, karena metode ini dianggap lebih mudah diakses dalam meningkatkan keuntungan.

Namun, metode ini juga memiliki kekurangan. Jika pemotongan biaya operasional dilakukan terlalu banyak, maka dapat mengurangi produktivitas perusahaan, yang mana juga mengurangi keuntungan yang diperoleh. Meskipun mengurangi biaya operasi biasanya dapat meningkatkan keuntungan jangka pendek, hal tersebut juga dapat merugikan dan berdampak bagi pendapatan perusahaan dalam jangka panjang.

Misalnya, jika sebuah perusahaan memotong biaya iklannya, maka keuntungan jangka pendeknya mungkin akan meningkat karena menghabiskan biaya operasional yang lebih sedikit. Namun, dengan mengurangi iklan, penjualan perusahaan juga bisa berdampak pada pendapatan di masa depan yang dapat berkurang.

Bagaimana Cara Menghitung Biaya Operasional?

Rumus dan langkah-langkah berikut dapat Anda gunakan untuk menghitung biaya operasional bisnis. 

Operating cost = Cost of goods sold + Operating expenses

  1. Anda perlu mengambil total cost of goods sold dari laporan laba rugi perusahaan
  2. Mencari total biaya operasional, yang terdapat pada bagian lebih lanjut dari laporan laba rugi.
  3. Menambahkan total biaya operasional dan COGS untuk mendapatkan total biaya operasional periode tersebut.

Baca juga: Mengenal Fungsi dan Jenis Administrasi Perusahaan

Jenis-Jenis Biaya dan Biaya Operasional

Sebelum mengenal tentang jenis-jenis biaya operasional, mari kita membahas jenis-jenis biaya terlebih dahulu. Karena biaya operasional mencakup sebagian besar biaya berikut!

Biaya sendiri dapat diklasifikasikan menggunakan karakteristik yang berbeda seperti elemen, sifat, variabilitas, pengendalian, normalitas, dan fungsi.

Klasifikasi biaya berdasarkan elemen

Berdasarkan unsurnya, biaya dapat dikelompokkan menjadi:

  • Biaya bahan baku
  • Biaya tenaga kerja
  • Biaya pengeluaran
  • Biaya komoditas

Klasifikasi Biaya Berdasarkan Sifatnya

Biaya dapat diklasifikasikan berdasarkan identifikasi terhadap pusat biaya atau unit biaya. Kelompok tersebut yaitu :

  • Biaya langsung (direct cost)
  • Biaya tidak langsung (indirect cost)

Klasifikasi biaya berdasarkan variabilitas atau perilaku biaya 

Dibagi menjadi tiga yaitu:

  • Biaya variabel
  • Biaya tetap
  • Biaya semi-variabel

Klasifikasi biaya berdasarkan dipengaruhinya

  • Controllable costs
  • Uncontrollable costs

Klasifikasi biaya berdasarkan normalitas

  • Biaya normal atau tak terhindari
  • Biaya abnormal atau terhindari

Klasifikasi biaya berdasarkan fungsi 

  • Biaya produksi
  • Biaya administrasi
  • Biaya distribusi
  • Biaya penjualan

Klasifikasi biaya berdasarkan waktu

  • Biaya historis
  • Biaya yang telah ditentukan sebelumnya. Biaya ini terbagi menjadi dua yaitu: 
  • Estimasi biaya
  • Biaya standar

Klasifikasi biaya menurut relevansinya terhadap pengambilan keputusan dan pengendalian

  • Biaya marjinal
  • Biaya sunk
  • Biaya out-of-pocket
  • Opportunity costs
  • Imputed costs
  • Differential costs
  • Shut-down costs
  • Postponable costs
  • Replacement costs
  • Abandonment costs

Baca juga: Mengenal Definisi, Tujuan, dan Jenis Anggaran Perusahaan

Biaya Operasional

Biaya Operasional

Dari biaya-biaya diatas, sebagian besar merupakan biaya operasional. Biaya operasional mencakup banyak komponen seperti :

  • Biaya akuntansi dan hukum
  • Biaya bank
  • Biaya penjualan dan pemasaran
  • Biaya perjalanan
  • Biaya hiburan
  • Biaya penelitian dan pengembangan yang tidak dikapitalisasi
  • Biaya perlengkapan kantor
  • Biaya sewa
  • Biaya perbaikan dan perawatan
  • Biaya utilitas
  • Biaya gaji dan upah

Biaya operasional juga mencakup harga pokok penjualan, yang merupakan biaya langsung terkait dengan produksi barang dan jasa. Beberapa biaya yang terdapat di dalam harga pokok penjualan, antara lain:

  • Biaya bahan langsung
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya sewa pabrik atau fasilitas produksi
  • Biaya tunjangan dan upah bagi pekerja produksi
  • Biaya perbaikan peralatan
  • Biaya utilitas dan pajak fasilitas produksi

Biaya operasi bisnis terdiri dari dua komponen, biaya tetap dan biaya variabel, yang berbeda dalam hal-hal penting.

Biaya tetap (fixed cost)

Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah baik terjadi peningkatan atau penurunan penjualan. Biaya ini harus dibayar terlepas dari keadaan produktivitas kinerja atau aktivitas perusahaan. Misalnya, perusahaan manufaktur harus membayar uang sewa untuk gudang pabrik, terlepas dari berapa banyak produk yang dihasilkan atau seberapa cepat mereka memproduksinya. Meskipun perusahaan dapat menghemat atau mengurangi biaya sewa, namun biaya ini tidak bisa dihilangkan. Oleh karena itu, biaya ini dianggap tetap. Biaya tetap umumnya meliputi biaya overhead seperti asuransi, keamanan, dan peralatan. 

Biaya tetap dapat membantu perusahaan mencapai skala ekonomi. Skala ekonomi merupakan kondisi yang memungkinkan perusahaan dapat menjual barang yang sama dengan perusahaan lain dengan harga yang lebih rendah. Bagaimana caranya? Ketika banyak perusahaan lain telah menetapkan fixed cost, perusahaan dapat memperoleh keuntungan melalui produksi per unit. Jadi dalam sistem ini, biaya tetap tersebar pada tiap unit yang diproduksi, yang mana dapat meningkatkan efisiensi produksi. Hal ini dapat terjadi  karena dengan meningkatkan produksi maka biaya produksi rata-rata per unit akan berkurang.

Prinsip skala ekonomi dapat juga dibatasi karena biaya tetap pada umumnya bisa ditingkatkan dengan tolak ukur tertentu dalam pertumbuhan produksi.misalnya, sebuah perusahaan manufaktur meningkatkan produksinya selama periode tertentu. Pada akhirnya ia akan mencapai titik dimana ia perlu memperbesar ruangan pabriknya untuk dapat mengakomodasi peningkatan produksi. 

Biaya Variabel (Variable cost)

Biaya variabel merupakan biaya yang terdiri dari jenis-jenis biaya yang bervariasi sesuai dengan produksi. Berbeda dengan biaya tetap, biaya variabel meningkat ketika produksi meningkat dan menurun ketika produksi menurun. Contoh biaya variabel seperti biaya bahan baku dan biaya listrik.

Misalnya, sebuah restoran cepat saji ingin meningkatkan penjualan kentang gorengnya, maka diperlukan peningkatan pembelian kentang dari pemasoknya.

Pada umumnya perusahaan yang memiliki proporsi biaya variabel yang relatif tinggi terhadap biaya tetap dianggap kurang stabil. Karena orang-orang menganggap keuntungan mereka lebih bergantung pada keberhasilan penjualan perusahaan. 

Biaya semi-variabel (Semi-Variable Costs)

Selain biaya tetap dan variabel, terdapat sebutan lain untuk biaya operasional perusahaan yaitu biaya yang mewakili campuran komponen biaya tetap dan variabel atau biaya yang dianggap ada antara biaya tetap dan biaya variabel. Biaya semi-variabel bervariasi sesuai dengan kenaikan atau penurunan produksi. Contoh biaya semi-variabel adalah biaya tenaga kerja lembur.

Upah reguler untuk pekerja umumnya dianggap sebagai biaya tetap. Namun, karena manajemen perusahaan bisa saja mengurangi jumlah pekerja dan jam kerja yang dibayar, maka beberapa tenaga kerja perlu bekerja ekstra untuk mengganti peran tersebut. 

Baca juga: Semua Tentang Laporan Keuangan Yang Perlu Anda Ketahui

Permudah Dalam Mengelola Biaya Operasional Bersama Appsensi

Pencatatan biaya operasional merupakan hal yang sangat penting dan bisa berdampak bagi seluruh entitas bisnis di dalam perusahaan. Biaya operasional sendiri mencakup berbagai biaya, salah satunya biaya tenaga kerja atau gaji. Pencatatan biaya ini harus dilakukan dengan sangat teliti dan cermat untuk mencegah terjadinya kesalahan. 

Anda bisa menggunakan Appsensi dalam mempermudah pencatatan biaya operasional. Appsensi sendiri merupakan perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 2019 memiliki berbagai fitur yang bermanfaat bagi HR. Fitur Appsensi yang bermanfaat bagi Anda dalam pencatatan biaya operasional yaitu perhitungan biaya pengeluaran secara real-time dan fitur payroll. Perhitungan biaya pengeluaran secara real-time dan fitur payroll akan membantu Anda melakukan pencatatan pengeluaran terkait biaya gaji, upah, dan lain-lain. 

Appsensi juga memiliki fitur utama berupa fitur absensi online, yang mampu membantu perusahaan dalam memonitor data kehadiran, dan kinerja karyawan secara real-time

Kami juga menyediakan fitur grafik informasi progress dan monthly report, fitur memberikan tugas dan penilaian kepada karyawan, performance management, pengajuan klaim, pengajuan lembur,pengajuan cuti, dan masih banyak lagi.

Appsensi telah berpengalaman dalam bekerja sama dengan beberapa klien, seperti BNPB, Bank Indonesia, Metrocom Global Solusi, D’Crepes, Terralogiq, Bhinneka Life dan masih banyak lagi. Testimoni dari klien kami juga menyebutkan bahwa Appsensi membuat data absen mereka menjadi lebih valid dan mempermudah pembuatan reporting data kehadiran, serta user friendly. Anda jadi tidak perlu khawatir jika ingin menggunakan software HR Appsensi.

Ingin mencoba langsung manfaat dari Appsensi? Klik link ini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Appsensi. 

Author Profile

Ricky Caesar Sam

Head of Sales and Marketing Appsensi

|

Share this post on

Related Article

Leave a Reply

Name

Email

Comments